Biografi & Sejarah
Nyoman Yutdiarta
Dana Keris: Merawat Tradisi, Menempa Generasi
Dana Keris merupakan sebuah usaha yang berangkat dari kesederhanaan, namun tumbuh menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya keris di Bali. Berawal dari perjalanan panjang keluarga, Dana Keris tidak hanya menjadi tempat produksi dan penjualan, tetapi juga ruang pembelajaran dan pewarisan nilai-nilai tradisi.
Cikal bakal usaha ini dimulai oleh I Made Dana pada tahun 1970-an. Pada masa itu, beliau mulai bergelut di bidang keris dengan penuh ketekunan. Ia bahkan berjualan secara keliling di wilayah Denpasar, khususnya di sekitar kawasan Bali Hotel, yang pada saat itu menjadi pusat interaksi masyarakat dan wisatawan. Di sanalah beliau tidak hanya berdagang, tetapi juga belajar, berinteraksi, dan memperdalam pengetahuan mengenai keris sebagai warisan budaya.
Pengetahuan dan keterampilan tersebut kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya, yaitu anaknya I Nyoman Yutdiarta. Sejak tahun 2000, beliau mulai menekuni secara serius bidang kerajinan keris, khususnya dalam pembuatan sarung keris. Pada masa itu, keris belum sepopuler sekarang, dan sebagian besar pesanan yang diterima berkaitan dengan kebutuhan sarana upacara adat di Bali, seperti perlengkapan bagi pecalang di berbagai daerah, serta keperluan upacara di pura-pura.
Seiring berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap keris terus meningkat. Hal ini semakin berkembang setelah pengakuan dari UNESCO pada tahun 2005 yang menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Sejak saat itu, keris tidak hanya dilihat sebagai benda sakral, tetapi juga sebagai karya seni dan koleksi bernilai tinggi, bahkan diminati hingga ke mancanegara.
Dalam proses produksinya, Dana Keris tetap menjaga nilai tradisi dan kualitas kerajinan. Dengan semangat “astungkara”, usaha ini tidak pernah sepi dari pelanggan. Peningkatan minat datang dari berbagai kalangan, termasuk generasi muda seperti milenial dan Gen Z yang mulai menjadikan keris sebagai bagian dari hobi dan koleksi budaya.
Tidak hanya berfokus pada produksi, I Nyoman Yutdiarta juga aktif dalam melestarikan keterampilan ini dengan membuka ruang belajar bagi anak-anak muda dan masyarakat sekitar yang ingin mempelajari proses pembuatan keris, khususnya sarung keris. Selain itu, beliau juga mengajak warga sekitar untuk beralih profesi menjadi pengrajin, sehingga turut membuka peluang ekonomi berbasis budaya lokal.
Saat ini, selain sebagai pengrajin, beliau juga dikenal sebagai salah satu kolektor keris di Bali. Melalui Dana Keris, ia terus berkomitmen menjaga warisan leluhur, mengembangkan kreativitas, serta memperkuat identitas budaya Bali melalui kerajinan keris.
